Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puluhan pesawat tempur F-35 terpaksa keluar dari penerbangan karena suku cadang

Puluhan pesawat tempur F-35 terpaksa keluar dari penerbangan karena suku cadang

MilitaryEzyInfo.com - Puluhan pesawat tempur siluman F-35 terpaksa tetap berada di pangkalan sambil menunggu perawatan, masalah suku cadang, dan peningkatan modul mesin.

Satu dari tujuh pesawat tidak beroperasi, yang diungkapkan oleh seorang pejabat program Joint Strike Fighter.

Letnan Jenderal Eric Fick dari Angkatan Udara AS mengatakan, Saat ini ada total 46 F-35 AS di seluruh dunia dalam kondisi siap misi menunggu perbaikan, suku cadang yang berstatus MICAP (Mission Impaired Capability Awaiting Parts). Artinya sampai pesawat diperbaiki, mereka tidak dapat melakukan misi apa pun.

Dari 46 pesawat tersebut, 41 merupakan F-35A TNI AU, satu F-35C Angkatan Laut, satu F-35C Korps Marinir, dan tiga sisanya dari negara lain yang membelinya dari Amerika Serikat, yang juga sedang menunggu kedatangan mereka, kata Fick.

Ada beberapa faktor di balik situasi puluhan jet tempur supersonik itu. Yang pertama adalah pandemi Covid-19, yang telah mengganggu rantai pasokan internasional dari produksi komponen hingga pengiriman untuk program F-35 global.

Mesin F135 pada pesawat tempur F-35 juga membutuhkan perawatan lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya; panas yang dihasilkan oleh mesin F135 telah menyebabkan retakan pada bilah turbofan, dan komponen ini harus diganti lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Faktor ketiga adalah penarikan Turki dari program global F-35. Padahal, Turki sudah mendukung program F-35 sejak awal. Namun, baru-baru ini, Turki beralih ke rudal pertahanan udara jarak jauh S-400 Rusia.

AS dan NATO segera memprotes, dengan alasan bahwa kebijakan pengadaan senjata Turki tidak sejalan dengan statusnya sebagai sekutu NATO dan berisiko mengungkap rahasia F-35.

Turki menolak untuk membatalkan pembelian dan dikeluarkan dari program pesawat militer mulai tahun 2019. Masalah berikutnya muncul karena Industri Penerbangan Turki bertanggung jawab atas produksi hampir 900 suku cadang untuk F-35.

Dari 900 suku cadang tersebut, 188 adalah suku cadang mesin. Produksi tidak hanya untuk kebutuhan dalam negeri tetapi untuk semua F-35 di seluruh dunia.

Lockheed Martin dan program F-35 berharap dapat segera menemukan sumber alternatif untuk suku cadang yang sama dan menyelesaikan masalah pada tahun depan.

Artinya, puluhan pesawat akan menunggu hingga tahun depan untuk terbang kembali. Beberapa ahli bahkan khawatir bahwa hingga 20 persen jet tempur F-35 dunia dapat dihentikan sementara setelah tahun 2025.